Behind The Wall

July 12th, 2007 by ghuroba

Malam itu di meja makan,istriku bercerita tentang bunyi keras dari tembok belakang rumah yang terjadi sore hari. Seperti orang memukul-mukul tembok dengan batu. "Suaranya keras banget mas", katanya. Dirumahku, bagian belakang digunakan untuk meja makan. Atap bagaian belakang rumah tidak ada alias bolong, hanya ada fiber untuk mencegah air hujan masuk.

Aku langsung berfikir jangan-jangan ada orang yang memasang benda untuk pijakan masuk rumah tanpa izin, alias maling. Berhubung masih malam maka diputuskan untuk mengecek esok harinya.

Esoknya, sepulang aku bekerja, pembantuku bercerita kalau bunyi itu  berasal dari penggalian lubang untuk makam warga yang baru meninggal. Rencananya akan dimakamkan hari itu juga. Aku baru ingat kalo tanah kosong di belakang rumah memang digunakan si empunya tanah untuk makam keluarga. Kurang lebih sudah ada lima makam, jadi akan bertambah satu dengan penghuni baru itu.

Yang bikin aku kurang tenang, entah kenapa makam itu diletakkan ga jauh dari tembok belakang rumah. Yah, ada 1 meter dari tembok lah. Padahal tanahnya luas, sekitar 300 m persegi. Jadi kalau tembok belakang dijebol, kami langsung berhadapan langsung dengan….kuburan.

Setelah pemakaman, malamnya kami mulai mendengar sayup-sayup suara orang membacakan Alqur’an untuk si mayit, mungkin dari keluarga almarhum. Begitupun malam kedua, ada suara orang tadarus. Pembantuku yang tampaknya penakut, memilih tidur bersama ibu mertuaku (ayah mertua sudah almarhum)

Menginjak malam ketiga, turun hujan deras. Kali ini tidak terdengar lagi suara orang mengaji, mungkin karena hujannya deras dan lama. Malam itu kami makan dalam dingin yang menusuk tubuh.

Paginya, air dari sumur yang dipompa ke setiap keran mengeluarkan warna coklat. Kupikir itu biasa karena memang setiap hujan air sumur berubah warna jadi coklat. Tapi kali ini ada yang aneh, ada bau khas dari air itu. Seperti bau amis. Aku pun memutuskan hanya mengelap badan dan membawa sikat gigi ke kantor.

Sepulang kerja di malam hari, air tidak kunjung jernih dan bau justru semakin menyengat. Aku pikir aku harus memeriksa tandon air besok pagi siapa tahu ada bangkai hewan yang mati dalam tandon.

Paginya aku sempatkan naik ke genteng untuk memeriksa tandon. Setelah kubuka, Masya Allah, air berwarna coklat pekat dan….berbuih. Segera saja tandon kukuras. Namun aku tidak menemukan satu bangkai binatang pun.

Pembantuku yang baru saja mandi dan menggosok gigi muntah-muntah karena tidak tahan dengan bau amisnya. Akhirnya aku mandi dengan air PAM yang alirannya sungguh kecil. Dan yang membuatku
tercengang, ternyata pembantuku bercerita bahwa, sumur rumah terletak dekat tembok belakang rumah, dibawah lantai. Sangat mungkin hujan mengaduk-aduk dan merendam si jenazah, kemudian air mengalirkan ke bawah dan masuk ke sumurku.

Malam berganti malam berikutnya aku jadi banyak berfikir dan merenung. Memang manusia makhluk yang berasal dari air yang hina dan berakhir juga dalam keadaan hina. Walau dia seorang presiden, menteri, saudagar kaya, pasti dia akan mati.

Diatas bumi manusia bisa saja congkak, membuat kerusakan di mana-mana. Tapi di bawah bumi, Masya Allah, apakah para mayit itu masih bisa tertawa-tawa? Jangankan jasadnya, air yang melaluinya saja akan berbau menyengat.

Ya, Allah. Engkau sudah mengingatkan kami tentang hari kematian. Maka jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur dan bisa mengisi hidup dengan amal saleh. Amin.

Dari Berboncengan

January 24th, 2007 by ghuroba

Bukan salah manusia jika suka pada lawan jenis. Lha, memang itu fitrahnya kenapa mesti dilarang-larang. Tidak, tidak ada larangan bagi pria untuk cinta pada wanita. Silahkan saja, asal memang pas sesuai jalur agama. Ya nikah itu jalurnya, bukan yang lain-lain. Masa-masa muda memang begitu ’panas’ untuk dekat dengan lawan jenis. Bagi yang sudah tertarbiyah tentu yang diinginkan hanya pernikahan. Bersanding dengan pasangan halal dan thayyib. Makanya dulu saya sering ’iri’ dengan suami-istri (aktivis lho) yang berboncengan naik kendaraan. Bahagia sekali kelihatannya. Hati saya jadi terusik untuk segera mengakhiri masa lajang, mengikuti jejak baik mereka. Memang begitulah keinginan berbahagia itu seringkali menutupi berbagai tantangan dan ’beratnya’ tanggungjawab di balik pernikahan. Ada baiknya juga, karena memang kalo orang yang disuguhi yang berat-beratnya saja malah bisa enggan menikah. Yah, sebaik-baik perkara tentu yang pertengahan. Sah-sah saja berkeinginan kuat untuk segera mengakhiri masa lajang, terlebih hal itu memang dianjurkan oleh agama. Namun keinginan tersebut tentu tak layak mengabaikan persiapan-persiapan penting untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Terlebih persiapan yang terkait dengan ilmu, yang terkait dengan hak dan kewajiban yang mesti ditunaikan oleh pasutri. Kalau hak kewajiban itu tidak tertunaikan dengan baik bisa dikategorikan kedzaliman. Ada dosanya dan bisa membuat pasangan hidup jadi merana. Kasihan ’kan? Sudah dinikahi, nafkahnya tidak dicukupi malah tambah disia-siakan.

Saya sempat miris dan sedih bila mendengar ada suami yang dzalim pada istrinya.

Naudzubillah, moga-moga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjauhkan saya dari sifat pasangan kejam seperti ini. Lebih miris lagi kalo ternyata yang berlaku kejam itu adalah orang yang sudah tahu ilmunya?! Sudah tahu tentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk bergaul baik-baik dengan istri ternyata dilanggar. Yah emang benar, itu bisa saja terjadi. Karenanya mesti ada poin ketakwaan yang bersanding dengan ilmu. Ini dia poin yang menyebabkan terjerumusnya Yahudi pada kebinasaan. Mereka paham ilmu tapi tak punya takwa sehingga meninggalkan amalan.

Dengar-dengar tentang adanya suami yang kurang baik seperti itu biasanya memacu diri saya untuk memperbaiki diri. Membenahi niatan hati agar bisa ikhlas bergaul dengan istri, mulai belajar-belajar lagi tentang tata cara bergaul secara syar’i. Tak lupa juga, banyak-banyak membaca tentang bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bergaul dengan para istrinya. Demikian juga sering bergaul dengan orang-orang shalih yang penyayang pada istrinya. Moga-moga saya bisa ketularan menjadi suami yang baik bagi istri-istri…eh istri saya*. Semoga!

(Ditulis oleh yang dulunya calon sekarang sudah tidak calon lagi)

*tidak anti poligami islami bahkan mendukung…

Saat Menolak dan Ditolak…

July 30th, 2006 by ghuroba

Menolak dengan Ma’ruf :

1. Agar tak banyak dan bingung dalam bersikap, tentukanlah kriteria atau calon pasangan sejak jauh-jauh hari. ingin suami/istri yang seperti apa, sih? Umumnya kriteria itu menyangkut aspek ruhiyah, aqliyah dan jasadiyah(fisik)

2. Tentukan skala prioritas dari standart yang telah dibuat, misalnya no.1 masalah agamanya, ke2 kepribadian, baru masalah keluarga, status sosial,ekonomi,fisik dan lainnya.

3. Saat ada proposal masuk, gali data dan informasi sebanyak mungkin. Caranya? tempuh prosedur ta’aruf yang benar! bisa bertanya langsung,bisa secara tertulis, atau bisa lewat pihak ketiga.

4.Sinkronkan data yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ingat, bukan sekedar mengukur "Apakah dia cocok buat saya, tapi juga apakah saya cocok buat dia"

5. Selain pertimbangan syariah, gunakan juga ukuran logika umum. Islam tidka melarang logika , justru mendukung penggunaan logika dan emosi. Misalnya ternyata si dia jauh di atas, sudahlah keturunan raja, konglomrat, sementara saya rumahnya masih dipinggir kali. Sanggupkah kita menghadapi kesenjangan itu?

6. Jika terlalu jauh meleset, segera putuskan untuk katakan TIDAK. Jangan memberi harapan-harapan kosong hanya karena bimbang!.

7. Jika ada kecocokan, meski tidak seratus persen sebab ini sangat sulit, minta waktu untuk mempertimbangkannya. Jangan terlalu lama!.

8. Lakukan penolakan sebelum proses khitbah atau lamaran resmi yang sudah melibatkan keluarga dua belah pihak.

9. Sampaikan penolakan secara jelas termasuk alasannya

10. Cermati bagaimana kepribadiannya, jika tergolong sensitif pilih alasan umum yang tidak menyakitkan. Misalnya , jangan katakan saya tidak bisa menerima karena fisik Anda kurang oke, atau Anda kurang cerdas. Katakan saja, setelah sholat istikharah dan mempertimbangkan baik-baik, mohon maaf, saya tidak bisa menerima proposal ini.

Ditolak tetap ikhlas:

1. Sebelum mengajukan proposal pada seseorang, siapkan mental bahwa ada dua kemungkinan, diterima atau ditolak.

2. Tetapkan tujuan dengan ikhlas dan berdimensi kedepan: "saya sedang menjajagi calon ibu atau calon ayah buat anak-anak saya, bukan cuma mencari pendamping hidup"

3. Saat DITOLAK :(, ambil hikmahnya dan berpikir positiflah, bahwa Allah telah membuka tabir rahasia-Nya. dia memang bukan yang terbaik buat saya, dia memang bukan calon ibu atau ayah buat anak-anak saya kelak.

4. Jauhi pikiran yang mendiskreditkan diri sendiri. Misalnya , "ah saya memang bukan orang kaya, saya bukan orang terhormat dan sebagainya". dikhawatirkan, pikiran-pikiran semacam itu akan membuat kita menggugat takdir-Nya.

5. Alihkan energi kesedihan, kekecewaan, malu atau marah, selama dalam batas wajar adalah lumrah dan manusiawi dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat, baik buat diri mau pun orang lain.

6. Segera bangkit dan tetap optimis untuk mendapatkan calon pengganti. Ingat kita bukan sedang mengejar-ngejar si A or si B sampe Z :) tapi sedang mencari teman perjalanan menuju gerbang surga!

Diperoleh Bila Seseorang Menikah

June 12th, 2006 by ghuroba

Berikut ini apa yang bisa diperoleh bila seseorang menikah.

1. Melengkapi agamanya

"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri

"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia

"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang." (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala

4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah

Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,) "Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, "Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka’at Dhuha.") (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik

"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam,
maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan
dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun." (HR. Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR. Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada
keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka."  (Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf, Media Hidayah, hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis
pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
"Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya." (Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Kitab Riyadush Shalihin Bab Memberi Nafkah Terhadap Keluarga).

9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim

Semoga bermanfaat.

Nikah versus Maisyah

January 31st, 2006 by ghuroba

“Semua orang juga mau nikah, tapi …, ana belum siap nikah tuh…” Kalimat itu keluar dari mulut seorang ikhwan yang baru saja menerima sebuah pesan SMS, dari temannya yang memang sudah menikah. “Nikah yo…” Isi SMS tersebut.

Ternyata ikhwan itu tidak sendiri dengan kata-kata “Belum siap”nya. Banyak lagi ikhwan-ikhwan lain yang juga menjawab “belum siap” ketika ditanya tentang kapan nikah? Padahal usia sudah sangat cukup sekali untuk menikah, belum lagi dengan fitnah syahwat yang menjamur dimana-mana.

Duh… harus kuat iman plus rajin shaum sunnah untuk gak buru-buru nikah Ketika ditanya tentang alasan ketidaksiapan mereka, jawabannya bermacam-macam. Mulai dari menyelesaikan study, belum dapat izin orang tua, sampai masalah maisyah.

Kebanyakan alasan mereka adalah masalah maisyah. Belum punya rumah, belum punya mobil , belum punya pekerjaan tetap, belum naik jabatan, atau bahkan belum bekerja sama sekali. Itu alasan mereka. Duh akhi…, kalo nunggu sampai punya rumah dan mobil pribadi, kapan nikahnya???

Padahal perintah Allah untuk menikah itu sangat jelas. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui” (Qur’an Surat An Nur : 32)

Rasullulah salallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada para pemuda untuk menikah, dan menasehati pada mereka yang tidak mampu untuk puasa, dengan tujuan untuk menahan syahwat. Dari Ibnu Mas’ud radiallahu anhu, “Kami bersama Rasulullah salallahu alaihi wa salam, pada saat kami masih muda, dan tidak memiliki harta. Rasulullah salallahu alaihi wa salam bersabda “Wahai para pemuda! Menikahlah, jika kamu mampu, karena dengan menikah akan lebih menundukan pandangan, dan menjaga kemaluan. Jika kamu tidak mampu, berpuasalah, karena puasa adalah penahan untuknya(syahwat)” (Hadist riwayat Bukhari & Muslim)

Lebih banyak ikhwan yang merasa belum siap menikah daripada akhwat. Hal ini karena ikhwanlah yang bertanggung jawab penuh untuk menafkahi istrinya, juga untuk menanggung segala biaya operasional rumah tangga. Hmm… Lagi-lagi masalah maisyah…

Bagaimana kalau dorongan untuk menikah itu semakin kuat dan tidak tertahan lagi??? Sementara maisyah belum mencukupi??? Allah menjanjikan pertolongannya wahai saudaraku… segeralah menikah…!!

Dari abu hurairah radiallahu anhu, Rasulullah salallahu alaihi wa salam bersabda “Ada 3 golongan yang adalah hak Allah untuk menolongnya. Seorang mujahid fi sabilillah, seorang mukatib*, dan seseorang yang ingin menikah untuk menjaga kehormatannya” (Hadist Riwayat Ahmad, At-tirmidhi, An- nasa’i , dan lain-lain) Hadist ini dihasankan oleh Shaikh Nashirudin Al Albani dalam Sahihul Jami’ hadist no.3050

Dan didalam riwayat lain : Dari abu hurairah radiallahu anhu, Rasulullah salallahu alaihi wa salam bersabda” Adalah hak Allah untuk menolong seseorang yang ingin menikah dengan tujuan untuk menghindari maksiat (Apa yang Allah larang) (Hadist riwayat Ibnu Adiy, dihasankan oleh Shaikh Nashirudin al Albani dalam Sahihul Jami’ Hadist No.3152)

Gimana…???

Masih ragu untuk nikah…???

Insya Allah, mantapkan niat dan jangan pernah bosan berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah, Sebaik-baiknya penolong! “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, dan keturunan kami sebagai penghibur hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa” (Qur’an Surat Al-Furqaan : 74)

Tiara Ummu Hamzah

http://www.geocities.com/happy_with_islam/

Etika Dakwah

January 8th, 2006 by ghuroba

Aktifitas dakwah adalah memang bertabur pahala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat : 33)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa megurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Meski demikian, ada beberapa point yang penting kudu diperhatikan oleh orang yang berdakwah agar aktivitasnya tadi benar-benar berpahala. Bukan malah sebaliknya, menambah tumpukan dosa. Diantaranya :

  1. Tauhid Dulu…!!

Permasalahan paling penting yang dimaksud adalah perkara tauhid. Diantara ciri dakwah yang mencontoh nabi dan para sahabatnya adalah mendahulukan dan memprioritaskan masalah tauhid.

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.” (An Nahl : 36)

Hal ini disampaikan kepada umat yang dengan cara yang mudah dipahami agar mereka selamat dari kekufuran yang disebabkan oleh perbuatan kesyirikan. Karena kesyirikan adalah dosa yang tak terampuni, menyebabkan seseorang kekal didalam api neraka.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An Nisa’ : 116)

“Telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, bahwa sungguh, apabila kamu berbuat syirik akan gugur seluruh amal perbuatan kamu dan kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Az Zumar : 65)

Sayangnya, sekarang para aktivis tidak peduli dengan praktek kesyirikan dan kebid’ahan yang melanda masyarakat di sekitar mereka. bagi mereka : “Mengapa harus membahas perbedaan? Yang penting persatuannya, bung…!”

Siapa sih yang ga mau persatuan? Tentu semua mau donk. Eits..!! Tapi tunggu..!!? Persatuan yang bagaimana dulu?

Apakah seorang muslim ahli Tauhid dapat dipersatukan dengan muslim tapi suka melakukan amalan kesyirikan dan ahli maksiat. Dan apakah seorang Ahlus sunnah dapat disatukan dengan ahlul bid’ah. Gimana kalo kita disamakan atau disatukan dengan muslim tapi suka meyembah kuburan. Wah emoohh tho yoo…!!

Sekali lagi ini bukannya sebuah bentuk kepesimisan atau menolak persatuan umat. Perlu kita sadari itu semua bukanlah suatu tujuan utama dari aktifitas dakwah. Tentunya ada yang lebih penting dari itu semua yaitu penanaman aqidah yang benar dan pemantapan iman yang kuat.

Persatuan yang dimaukan oleh Islam adalah persatuan yang dibangun diatas kesatuan agama dan aqidah. Persatuan tak mungkin bisa tegak tanpa kesamaan aqidah.

  1. Ilmu Sebagai Bekal Dakwah

Dakwah yang benar mesti berwal dari ilmu. Berdakwah tanpa ilmu merupakan dakwah diatas kejahilan. Dan dakwah diatas kebodohan lebih cenderung merusak daripada membangun. Ia akan sesat dan menyesatkan orang lain. Hal tersebut bertentangan dengan dakwahnya para rasul. Allah berfirman tentang dakwah rasul:

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata); Maha Suci Allah; dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Di atas Bashirah, paling tidak pada tiga hal, yaitu :

Pertama, punya bashirah tentang apa yang didakwahkannya; berarti berilmu tentang hukum-hukum syar’i. Karena boleh jadi kamu berdakwah kepada sesuatu yang disangka wajib padahal yang di dalam syariat tidak. Atau bisa jadi kamu melarang seseorang dari suatu perkara, ternyata tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, punya bashirah (berilmu) tentang kondisi orang yang didakwahi. Diantara yang perlu diketahui adalah tingkatan kemampuan ilmiah dan keenceran pikirannya. tak perlu istilah yang muluk-muluk apalagi asing untuk berbicara dengan mad’u sementara mad’u tak bisa membaca dan menulis, misalnya.

Ketiga, punya pengetahuan tentang cara dakwah. Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah* ) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl : 125)

* ) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Ilmu merupakan syarat menuju ketakwaan. Tanpa ilmu seseorang tak akan mampu meraih ketakwaan. Di samping itu, ilmu adalah senjata orang beriman yang ditakuti oleh setan.

“Seorang Mukmin yang berilmu lebih ditakuti oleh iblis dan bala tentaranya daripada seratus ribu Mukmin ahli ibadah. Karena Allah akan menjaga orang Mukmin yang berilmu dari sesuatu yang haram.” (Ka’ab al-Ahbar bin Mati’)

“Demi Allah, matinya seorang yang berilmu lebih disukai oleh iblis dari pada matinya tujuh puluh orang yang ahli yang beribadah.” (Muhammad bin “Ali)

Kesesatan seluruh kelompok sempalan juga berpangkal dari persoalan ilmu. Bisa jadi karena miskin ilmu, atau karena kebiasaan atau keyakinan tentang bolehnya memanipulasi ilmu yang benar (mengartikan dan memahami tanpa kaidah yang benar alias seenaknya menurut hawa nafsu dan taklid buta)

Ada

sebuah pernyataan penting yang kudu diingat. “Ilmu harus dimiliki, sebelum berkata dan berbuat”

  1. Memulai Penerapan Ilmu Pada Diri Sendiri

Ada

sebuah ayat yang layak ditadabburi kembali oleh para aktifis dakwah. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata); Maha Suci Allah; dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)

Yang dimaksud dengan ‘jalanku’ disini adalah tauhid. Sedangkan bashirah adalah ilmu dan keyakinan. Ayat tersebut mengajarkan bahwa langkah awal dakwah harus dimulai dari diri sendiri. Allah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Ash Shaff : 2-3)

Di Ayat yang lain Allah mengisahkan ucapan Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian makhluk. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al An’aam :162-163)

Hal tersebut menunjukan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah yang musti dimulai dari pribadi si pengemban dakwah. Dengan begitu, orang yang berdakwah haruslah menjadi contoh hidup dari pengamalan ajaran Islam secara utuh, sebatas kemampuan yang dimilikinya.

  1. Bersabar Dalam Menjalankan Tugas Dakwah

Allah berfirman mengisahkan tentang pernyataan Ya’kub Alaihimus sallam, “Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya." (Yusuf : 18)

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa kesabaran memiliki beberapa bentuk berdasarkan pendapat banyak ulama: kesabaran dalam melaksanakan kewajiban, kesabaran untuk meninggalkan keharaman, kesabaran menerima takdir dan rizki dan kesabaran dalam menghadapi musibah. Semuanya diperlukan membentuk seorang muslim yang mampu menegakan kebenaran dalam setiap situasi dan kondisi.

Seorang dai harus mempunyai tekad yang dalam mengemban dakwah. Yakin akan datangnya pertolongan Allah, meski membutuhkan waktu yang panjang. Nabi Nuh Alaihimus sallam yang berdakwah selama 950 tahun, namun hanya mendapatkan segelintir pengikut. Juga kesabaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengalami gangguan dari orang-orang Qurays. Sementara malaikat gunung yang dibawa malaikat Jibril sudah siap meruntuhkan gunung untuk ditimpakan kepada orang-orang tersebut. Namun justru beliau malah bersabda, “Jangan lakukan. Tapi cobalah bersabar. Semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka generasi yang akan beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

  1. Doakan Si Mad’u

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir itu dipenuhi. Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang ditugaskan. Ketika ia berdoa kebaikan untuk saudaranya maka malaikat yang ditugaskan itu mengatakan ‘aamiin’, Dan bagimu seperti itu pula.” (Riwayat Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Mengingatkan teman memang tanggung jawabmu, namun ingat segala perubahan yang terjadi padanya adalah mutlak kehendak Allah. Dia-lah yang menguasai hati seorang hamba. Oleh karena itu, iringilah segala aktivitas baik itu dengan memohon hidayah untuknya. Semoga Allah menunjukinya utnuk mengikuti jalan kebenaran.

  1. Ikhlas dan Ittiba’

Keikhlasan adalah hal yang sangat penting dalam setiap amalan. Tanpanya segala amalan kebajikan tidak akan punya nilai apapun. Karena pentingnya masalah ini para rasul seringkali menyatakan,

Katakanlah: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya. (Al Furqan : 57)

Jalan yang lempang dan pasti berujung kepada surga adalah jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Maka siapapun yang hendak menempuh jalan dakwah mesti ittiba’ atau mencontoh jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Segala yang kita korbankan atas nama dakwah berupa tenaga, pikiran, materi akan jadi sia-sia bila melenceng dari jalan yang lurus tadi.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) kami ini, maka yang tidak ada padanya (perintah kami), maka amal itu tertolak.”

Sebelum segalanya terlambat, hendaknya setiap orang mengoreksi langkahnya kembali.

Wallahu a’lam bish shawab

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Kalo Dilihat Asalnya

January 4th, 2006 by ghuroba

Kalo dilihat asalnya, demokrasi jelas berasal dari orang kafir. Kalo dilihat sistemnya, demokrasi 180 derajat berlawanan dengan Islam. Dalam demokrasi, suara terbanyaklah yang menang dan akan menjadi ikutan pihak yang kalah. sedangkan dalam Islam, ikutan dan panutan bukanlah karena punya pendukung yang banyak, tapi karena berada diatas kebenaran. Bahkan, Al Quran menyatakan bahwa yang banyak-banyak itu biasanya sesat, tidak tahu, kafir –pokoknya yang jelek-jelek. sedangkan yang sedikit-sedikit, biasanya baik-baik –kaya beriman, mengetahui kebenaran, bersyukur. Nah lho!

Jumlah memang menggiurkan. Diberi mangga satu karung tentu lebih suka daripada di beri mangga satu biji. Siapa pula yang tak senang dapat gaji banyak? Trus, yang punya organisasi tentu juga senang jika anggotanya banyak. Anggota organisasi, atau simpatisan pemikiran, kalo udah loyal dengan organisasi atau pemikiran tersebut tentu juga senang kalo organisasinya atau pemikiran yang ia anut banyak yang mendukung.


Islam memandang jumlah dengan pandangan tersendiri. Jumlah bukanlah jaminan. Jumlah bukanlah jaminan kebenaran, jumlah bukan pula jaminan kemenangan. Umat Islam bisa menang dalam Perang Badar, padahal jumlah umat islam yang ikut perang cuma 315-an. Ketika umat islam sudah banyak, dan merasa wah dengan jumlah, umat pun kalah dalam perang Hunain.

Ini ada pesan dari syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, mujadid besar Islam, “Sesungguhnya termasuk dari karakter orang-orang yang jahiliyah adalah tertipu dengan jumlah yang terbanyak dan mereka berdalil dengan jumlah terbanyak tadi untuk menunjukan sahnya sesuatu, dan mereka juga berdalil untuk menunjukan batilnya sesuatu dengan jumlahnya yang sedikit dan aneh.”

Ada yang lebih penting dari jumlah,yaitu iman yang benar di dalam dada. Jumlah sedikit dengan iman yang kuat bisa mengalahkan jumlah yang banyak dengan iman yang amburadul. Jaminan di atas kebenaran adalah mengikuti kebenaran itu sendiri, bukan karena banyak pengikut

Tentunya kita masih ingat saat waktu pemilu dengan “Tuntutan Publik” bahwa setiap Partai harus memenuhi kuota jumlah caleg perempuannya 30 persen, dari caleg yang diajukan.


“Wah, gawat nih, kalau sebuah tindakan dilakukan karena untuk memenuhi tuntutan publik…”

 

Bagaimana kalo publik minta yang lebih neko-neko lagi?

 

Ah, jadi teringat firman Allah,

“Dan jika kamu menuruti kebayakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am:116)

 

Katanya sih ada aturan-aturan untuk caleg perempuan salah satu partai, seperti, “harus memperhatikan aturan-aturan Islam, ketika ia bertemu, berkumpul dengan laki-laki, seperti cara berbicara, berpakaian, berdandan, berkumpul dengan laki-laki tanpa mahrom atau berbaur tanpa batas.”

 

Seberapa dapatkah hal itu terealisasi dalam parlemen yang sekuler? ingat pula, jalan demokrasi yang ditempuh mereka juga bukan jalan Islam. Satu kesalahan yang (sengaja) diikuti besar kemungkinan akan membuka kesalahan yang lain.

 

Sudahlah, kita berjuang dengan metode Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Kalau pun mau menerapkan syariat Islam, yuk kita terapkan dari diri kita dulu, keluarga, dan saudara-saudara kita dulu.

 

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah : 18)

 

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata : “Saya tidak meninggalkan sesuatu yang Rasulullah melakukannya kecuali aku pasti melakukannya juga dan saya takut jika saya tinggalkan sesuatu darinya lalu saya sesat.”

 

Orang yang paling jujur (Abu Bakar) khawatir terhadap dirinya untuk menyelisihi sesuatu dari jalan nabi.

 

Bagaimana bisa memperjuangkan Islam dengan cara yang tidak Islami? Kitakan bukan Zorro atau Robin Hood : maunya berbuat baik –membantu orang miskin- tapi dengan cara yang keliru; merampok pejabat dan orang kaya. Kita bukan Machiavellis, yang meraih tujuan dengan segala cara. Kita adalah Muslim, yang bertujuan baik dan meraihnya dengan cara yang disyariatkan pula.

Menjadi Profesional

January 4th, 2006 by ghuroba

“Aduh, gimana ya, Mas. Sebenarnya kita risih juga sih. Tapi…, udah tuntutan profesi. Kita khan harus kerja secara professional,” komentar seorang artis muda ketika ditanya tentang dirinya yang suka bongkar pasang jilbab.

Memang ungkapan seperti di atas sering mampir di telinga. alih-alih tuntutan profesi, pekerjaan, lingkungan dan seribu alasan lainnya, ujung-ujungna syariat yang bersifat prinsipil harus jadi korban. Aturan Allah pun dinomorsekiankan.

Disadari atau tidak, kita hanyalah seorang hamba. Allah-lah rabb kita yang menciptakan kita dari ketiadaan. Memberikan kemampuan mengerjakan sesuatu yang sebelumnya kita lemah tak berdaya. Menjadikan kita berkecukupan yang sebelumnya hadir ke dunia ini tanpa membawa apa-apa selain lengkingan tangisan. Maka renungkanlah..!!

Seorang hamba, sudah seharusnya menghambakan diri pada tuannya. Nah…, kita adalah hamba Allah, bukan hamba apa-apa dan siapa-siapa. Hamba Allah adalah profesi kita, artinya kita harus siap dengan segala aturan yang dibuat-Nya. Baik berupa perintah ataupun larangan.

Bukan sebaliknya, kita malah menentang perintah-Nya, melanggar aturan-Nya dan bersikap durhaka.

Kalau selama ini ada yang pamer aurat, bersikap menjilat, dan berbagai tindakan yang melabrak syariat dengan dalih profesi, coba dong tunjukan keprofesionalanmu sebagai hamba Allah.

Maka hamba yang profesional tatkala dihadapkan pada sesuatu yang disenangi tapi melabrak syariat akan mengatakan, “Tidak bisa, saya sebagai hamba harus professional. Jadi ini saya tolak.” pun tatkala dihadapkan pada sesuatu yang tidak disenangi hawa nafsunya, tapi itu adalah syariat akan mengatakan,” Yah, ini adalah tuntutan profesi. Kita khan harus jadi hamba Allah yang professional.”

Bila demikian, mari memulai dari diri sendiri untuk menjadi pribadi yang  professional. Siap..!!

Semangat

January 4th, 2006 by ghuroba

Masa muda seperti sekarang ini adalah masa yang diliputi oleh semangat. Ya, tergantung di bi’ah (lingkungan) mana seorang pemuda itu hidup dan ideology mana yang ia yakini.

Bila ia tumbuh dalam buaian atheisme maka ia akan semangat untuk membela dan memperjuangkan ideologinya. Kalau tumbuh dalam suasana maksiat, maka semangatnya pun tak berkisar jauh dari maksiat-maksiat itu. Demikian pula jika seorang pemuda tumbuh di dalam nuansa kebaikan maka semangatnya pun tertuju kepada pembelaan dan perjuangan kebaikan. Alhamdulillah, yang terakhir inilah yang diharapkan.

Semangat para pemuda yang tumbuh dalam kekufuran dan maksiat tentu tak ada gunanya, bahkan merusak dan merugikan kebenaran. Terlebih jika semangatnya didukung oleh otak yang cerdas, badan yang kuat, taktik yang jitu, koneksi yang banyak, materi yang menggunung. Naudzubillah, semangat tadi akan mengalir kepada jurang kehancuran. Semoga Allah menjauhkan diri ini dari semangat kemaksiatan dan kekufuran.

Bila demikian, apakah berarti orang yang punya semangat kebaikan sudah pasti selamat? Tunggu dulu, setan tak pernah membiarkan manusia untuk berlenggang diri dalam melaksanakan kebaikan. Terkadang bahkan seringkali semangat kebaikan diarahkan oleh setan untuk melakukan hal-hal yang lebih ngeri dari maksiat. Misalnya dengan menceburkan manusia ke dalam perbuatan kebid’ahan. Jenis amalan yang tak ada contohnya dalam syariat. Bid’ah lebih disukai iblis daripada kemaksiatan, demikian yang dikatakan oleh ulama. Karena semangat yang meluap-luap seorang pemuda bisa jadi meremehkan amal ibadah yang selama ini dilakukannya. Ia ingin sesuatu yang lebih dalam beribadah kepada Allah. Akhirnya, ia pun terdorong untuk melakukan amalan-amalan kebid’ahan. Termasuk juga, sebagian pemuda yang mengkafirkan pemerintahan muslim, atau melakukan aksi terror di negeri kaum muslimin.

Awalnya karena mereka semangat untuk menerapkan syariat dan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sayangnya, modal semangat belaka tak selalu membangun bahkan terkadang bisa merusak. Semangat yang membangun haruslah dibimbing oleh ilmu yang sahih. Ilmu yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Sebelum bertindak dan beraksi, pastikan dulu ilmunya dan bertanyalah kepada para ulama. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan “Bertanyalah kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui…” (An-Nahl : 43)

Setelah tahu ilmu dari para ulama? Bersemangatlah mengerjakan.

Ukhti, Sudahkah Engkau Mengetahui Tentang Shirat?

July 7th, 2005 by ghuroba

Road_brigdeUkhti,Sudahkah Engkau Mengetahui Tentang Shirat?

Ukhti muslimah, pernahkah engkau mendengar tentang shirat?? bila iya, maka bekal apa yang telah ukhti siapkan agar bisa selamat menyebranginya hingga ketepian? Sungguh tanpa bekal amal shaleh yang diterima-Nya mustahil kita akan selamat menitinya.

Banyak orang awwam mengatakan bahwa shirat adalah titian rambut yang dibelah tujuh, benarkah pernyataan ini? Bila ukhti belum pernah mendengar tentang shirat ini maka penulis akan memaparkan tentang ash-shirat ini dengan agak mendetail (Insya Allah) disertai dengan dalil yang shahih dan rajih dengan harapan agar ukhti-ukhti muslimah semuanya mempersiapkan diri sejak sekarang supaya nantinya tidak menyesal dan selamat dalam menitinya. Amiin

Makna Ash-Shirat

Ash-shirat sebagaimana yang difahami oleh para ulama salaf adalah titian (jembatan) yang melintas diatas Jahannam. Yaitu apabila manusia telah keluar dari mahsyar menuju kegelapan, sampai ketitian (jembatan).

1. Keadaan Ash-Shirat Yang Gelap Gulita

Karena sangat gelapnya maka pada hari itu manusia amatlah butuh dengan cahaya agar mereka bisa melihat. Kondisi yang sangat mengerikan ini telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

”Yaitu pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar dihadapan dan disebelah kanan mereka, Pada hari ini ada berita gembira untukmu yaitu surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang kamu kekal didalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak(12)

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu” dikatakan “Kembalilah kamu kebelakang dan carilah sendiri cahaya” Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Disebelah dalamnya ada rahmat dan disebelah luarnya dari situ ada siksa(13)

Orang-orang munafik itu memanggil mereka seraya berkata “Bukankah kami bersama-sama dengan kamu ”Mereka menjawab” Benar, tetap kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran)kami dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh syetan yang amat penipu(14)

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali(15)” [Al-hadid ayat 12-15]

Dan, dalam ayat lainnya, Allah berfirman:

”Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:”Ya, Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [At-Tahrim ayat 8]

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat diatas dengan berkata (lihat ayat 12-15):

Sesuai dengan amal mereka akan melintasi jembatan .Diantara mereka ada yang cahayanya sebesar gunung ada pula yang seperti pohon kurma dan ada pula seperti seorang laki-laki normal yang tengah berdiri tegak Yang paling rendah adalah orang-orang yang cahayanya terdapat pada ibu jari mereka terkadang bercahaya terkadang padam.Riwayat ini turut pula diriwayatakan oleh Ibnu Abi hatim dan Ibnu Jarir. Apabila menyala ia melangkah dan apabila padam ia berhenti.

Imam Abul Qasim Ath-Thabrani telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas rahimahullah bahwa Rasulullah bersabda :

”Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memanggil umat manusia diakhirat nanti dengan nama-nama mereka sebagai tirai penghalang dari-Nya. Adapun diatas jembatan, maka Allah ta’ala memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan munafik. Bila mereka telah berada ditengah-tengnah jembatan, Allahpun akan segera merampas cahaya orang-orang munafik laki-laki dan perempuan .Ketika itu berkatalah orang-orang munafik” Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu. Dan berkatalah orang-orang beriman:Ya, Rabb kami sempurnakanlah untuk kami cahaya kami. Ketika itulah setiap orang tidak akan mengingat orang lain.” (HR.Tabrani)

Ad-Dahak mengatakan:
Masing-masing dari kalian pastilah diberi cahaya pada hari kiamat, maka apabila mereka sampai ke shirat (jembatan/titian) padamlah cahaya orang-orang munafik, maka ketika orang mukmin melihatnya khawatirlah mereka apabila cahaya mereka padam, sebagaimana orang munafik. Maka mereka berdo’a wahai Rabb kami sempurnakanlah cahaya kami.

Tingkatan Orang yang Melintasi Ash-Shirat

Sungguh orang yang akan melewati shirat ini bermacam-macam tingkatannya, berdasarkan amal perbuatannya sewaktu hidup didunia. Ada yang secepat kilat,ada yang secepat angin, ada yang berlari dan ada pula yang berjalan bahkan merangkak!!

Perhatikanlah,..wahai hamba-hamba Allah yang beriman dan saudariku seiman betapa dahsyatnya peristiwa pada hari itu sehingga Nabi kita pun sampai berdo’a kepada-Nya agar umatnya selamat dalam meniti shirat ini. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak hadits-hadits berikut ini:

Hadits Pertama
”………maka orang itu dan yang lainnya melewati titian tadi. Sedangkan titian itu pipih bagaikan mata pedang, licin dan tajam. Diperintahkan kepada mereka: ”Lewatlah kalian menurut cahaya masing-masing”. Diantara mereka ada yang lewat bagaikan lesatan bintang-bintang. Diantaranya ada yang lewat bagaikan angin. Ada juga yang lewat bagaikan kejapan mata. Ada juga yang seperti kuda tunggangan yang kencang. Ada lagi yang berjalan miring. Mereka semua berjalan sesuai dengan kadar amal perbuatannya. Sampai datang orang yang cahayanya cuma diujung jempol kakinya untuk lewat. Sekali satu tangannya dikedepankan, yang lain terpaksa digantungkannya.Sekali kaki yang satu kedepan, yang lainnya juga harus ditahan kuat-kuat. Pinggir-pinggir tubuhnya sempat juga menyentuh api Jahannam. Lalu beliau melanjutkan: ”Maka selamatlah mereka sampai kesebrang. Ketika sampai mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dan kamu dari neraka setelah terlebih dahulu memperlihatkan dirimu kepada kami.Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kami apa yang tak pernah Dia berikan kepada siapapun" [HR. Al-Hakim]

Secara mauquf pada Ibnu Mas’ud dikeluarkan oleh Al-Hakim II/376-377. Atsar tersebut shahih, disahihkan oleh Al-hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Untuk melihat secara lengkap takrijnya silahkan merujuk kitab Tahzib Syarh Aqidah Thahawiyah yang telah di syarahkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam jilid II/66-67– penulis

Hadits Kedua

Dari jalan Abu Hurairah dan Huzaifah:

”……Diriwayatkan bahwa mereka pun mendatangi Muhammad. beliau lalu berdiri dan dijijnkan untuk membuka pintu surga. dikirimlah amanah dan rahmat lalu berdiri dikedua sisi titian tersebut, kiri dan kanannya. Rombongan pertama melewatinya sebagaimana kilat”.Aku bertanya (yaitu Abu Hurairah–pen): Demi Ayah dan ibuku bagaimana yang dimaksud dengan secepat kilat?” Rasulullah menjawab: ”Tidakkah kalian tahu bagaimana kilat itu datang dan pergi dengan sekejap mata? Ada juga yang melewatinya secepat angin, kemudian secepat burung dan berlari kencang. Amal perbuatan mereka yang menentukan semua itu. Sementara Nabimu ini berdiri diatas titian itu dan berkata;”Ya, Rabbi, selamatkanlah mereka, selamatkanlah mereka” Sampai ada yang amal perbuatannya tak mampu menjalankan dirinya, sehingga ada orang yang hanya dapat melewatinya dengan merangkak” [HR. Muslim, no.195, Kitabul Iman, Bab Penghuni surga yang terendah]

Hadits ketiga

Dari jalan Abu Said Al-Khudry :

”Maka ada orang-orang mukmin yang melewatinya sekejap mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung, ada yang bagaikan tunggangan yang baik. Orang yang selamat tanpa suatu apapun, itulah yang akan selamat kesurga. Orang yang tercakar, masih menggantungkan nasibnya dan yang terdorong akan masuk keneraka” [HR.Muslim dalam kitabul Iman 183, Bukhari dalam Kitab Tauhid, An-Nasa'i 8/112,11 dan Ahmad 3/17]

2. Bentuk Ash-Shirat, Wujud dan Cara Melewatinya

Orang yang menganggap remeh tentang masalah shirat ini mungkin hanyalah mengira bahwa ia adalah mirip dengan jalan di dunia yang sulit dilalui dan bergelombang turun dan naik. Padahal tidaklah demikian. Shirat ini lebih tajam daripada pedang, diatas kiri kanannya terdapat jangkar-jangkar dan alat penyambar. Tiba-tiba anda akan dipaksa melewatinya sementara dibawahnya adalah neraka jahannam, melihatnya tentu akan membuat hati ukhti ciut dan pendengaranmu akan tertutup oleh suara gemuruhnya. Marilah kita simak pengabaran tentang bentuk ash-shirat ini.

Hadits pertama

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

”Ash-shirat dibentangkan diatas punggung jahannam.Aku dan umatku yang pertama kali melewatinya.Hanya para rasul yang berhak berbicara pada hari itu. Do’a para rasul adalah :”Ya, Allah selamtakanlah mereka, selamatkanlah mereka”.Diatas Jahannam itu terdapat jangkar-jangkar yang bagaikan duri sa’dan.Tahukah kalian apa duri Sa’dan itu? [Sa'dan adalah sejenis tumbuhan yang dipenuhi dengan duri pada segala sisinya--penulis] Kami menjawab: Ya.Sungguh ia seperti duri Sa’dan. Hanya Allah sajalah yang mengetahui besarnya. Mereka semua akan diperlakukan sesuai dengan amal perbuatan mereka” [HR. Bukhari, kitabu riqaaq bab : Ash-Shirat adalah jembatan diatas Jahannam. Muslim no.182, kitabul Iman]

Hadits kedua 
Dari Abu Hurairah dan Huzaifah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

”Di kedua sisi titian (jembatan) itu terdapat jangkar-jangkar yang bergantung diperintah untuk menjerat siapa saja yang diperintahkan oleh Allah.Orang yang hanya tercakar, akan selamat, namun yang terdorong akan masuk ke neraka”. Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ditangan-Nya sesungguhnya dasar neraka itu dalamnya sejauh 70 tahun” [HR. Muslim, no.192 kitabul Iman]

Tambahan tentang bentuk ash-shirat ini terdapat dalam kitab Fitnah dan Bencana Akhir Zaman oleh Imam Ibnu Katsir (Dalam bahasa Arabnya An-Nihayaah fil fitan wal malaahim) tidak semua dipaparkan disini karena sangat panjang nantinya, untuk lebih jelasnya silahkan merujuk kesana.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Ubaid bin Umaid bahwa ia berkata:

” Wahai manusia sesungguhnya ash-shirat adalah titian yang dipasang diatasnya,licin dan curam adapun para malaikat berada disisi jembatan seraya berkata : Rabbi selamatkan. Ia berkata: Sesungguhnya ash-shirat seperti pedang diatas titian jahannam yang penuh dengan duri-duri, dan demi Allah sesungguhnya satu duri akan mengait lebih banyak dari suku Rabi’ah dan Bani Mudar”.

Dan dari Sa’id bin Abi Hilal ia berkata : Telah sampai kepada kami bahwa shirat pada hari kiamat diatas titian jahannam, atas sebahagian manusia lebih rumit dari helaian rambut dan atas sebahagian yang lain seperti lembah yang luas. (Fitnah dan Bencana Akhir zaman hal: 482)

Setelah membaca penjelasan diatas tentunya engkau akan merasa ngeri dan takut, dan sungguh pasti engkau akan berfikir dapatkah aku melewatinya dengan selamat? Ukhti muslimah, tidakkah engkau renungkan pada posisi yang mana engkau akan melewatinya? Apakah dengan secepat kilat, berlari, berjalan ataukah merangkak? Kalau titian itu telah bergoncang dan api Jahannam telah menjilat-jilat dibawahmu dengan dahsyat maka tak ada jalan selamat atau jalan pembebasan. Yang berguna bagimu dan bagi kita semua adalah hanya amal shalih yang diterima atau taubat (di dunia) yang tulus dan dosa yang sudah terampuni.

Pilihlah sekarang, amalan apa yang lebih menyelamatkan dirimu? jalan mana yang dapat menolong dan berguna menyelamatkanmu? Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah dan taufik-Nya sesungguhnya tanpa kedua hal ini maka kita akan sulit untuk iltizam dalam beramal shalih.Ya, Allah ampunilah dosa-dosa kami dan karuniakanlah rahmat-Mu kepada kami. amin.

Footnote:
(1).Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Slaaf,2/65,At-Tibyan.

Sumber bacaan:

  1. Terjemah Shahih Bukhari, Ahmad Sunarto,Asy-Syifa, Semarang

  2. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,Muhammad Nasib Ar-rifa’i,GIP, Jakarta
  3. Tahdzib Syarah Ath-Thahawiyah dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf, At-Tibyan,Solo
  4. Hiburan Bagi Orang yang Tertimpa Musibah, Muhammad bin Muhammad Al-Manjabi Al Hambali,Darul Haq,Jakarta
  5. Fitnah dan Bencana Akhir zaman, Ibnu Katsir, Pustaka Azzam