Aktifitas dakwah adalah memang bertabur pahala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Fushshilat : 33)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa megurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
Meski demikian, ada beberapa point yang penting kudu diperhatikan oleh orang yang berdakwah agar aktivitasnya tadi benar-benar berpahala. Bukan malah sebaliknya, menambah tumpukan dosa. Diantaranya :
- Tauhid Dulu…!!
Permasalahan paling penting yang dimaksud adalah perkara tauhid. Diantara ciri dakwah yang mencontoh nabi dan para sahabatnya adalah mendahulukan dan memprioritaskan masalah tauhid.
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.” (An Nahl : 36)
Hal ini disampaikan kepada umat yang dengan cara yang mudah dipahami agar mereka selamat dari kekufuran yang disebabkan oleh perbuatan kesyirikan. Karena kesyirikan adalah dosa yang tak terampuni, menyebabkan seseorang kekal didalam api neraka.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An Nisa’ : 116)
“Telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, bahwa sungguh, apabila kamu berbuat syirik akan gugur seluruh amal perbuatan kamu dan kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Az Zumar : 65)
Sayangnya, sekarang para aktivis tidak peduli dengan praktek kesyirikan dan kebid’ahan yang melanda masyarakat di sekitar mereka. bagi mereka : “Mengapa harus membahas perbedaan? Yang penting persatuannya, bung…!”
Siapa sih yang ga mau persatuan? Tentu semua mau donk. Eits..!! Tapi tunggu..!!? Persatuan yang bagaimana dulu?
Apakah seorang muslim ahli Tauhid dapat dipersatukan dengan muslim tapi suka melakukan amalan kesyirikan dan ahli maksiat. Dan apakah seorang Ahlus sunnah dapat disatukan dengan ahlul bid’ah. Gimana kalo kita disamakan atau disatukan dengan muslim tapi suka meyembah kuburan. Wah emoohh tho yoo…!!
Sekali lagi ini bukannya sebuah bentuk kepesimisan atau menolak persatuan umat. Perlu kita sadari itu semua bukanlah suatu tujuan utama dari aktifitas dakwah. Tentunya ada yang lebih penting dari itu semua yaitu penanaman aqidah yang benar dan pemantapan iman yang kuat.
Persatuan yang dimaukan oleh Islam adalah persatuan yang dibangun diatas kesatuan agama dan aqidah. Persatuan tak mungkin bisa tegak tanpa kesamaan aqidah.
- Ilmu Sebagai Bekal Dakwah
Dakwah yang benar mesti berwal dari ilmu. Berdakwah tanpa ilmu merupakan dakwah diatas kejahilan. Dan dakwah diatas kebodohan lebih cenderung merusak daripada membangun. Ia akan sesat dan menyesatkan orang lain. Hal tersebut bertentangan dengan dakwahnya para rasul. Allah berfirman tentang dakwah rasul:
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata); Maha Suci Allah; dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)
Di atas Bashirah, paling tidak pada tiga hal, yaitu :
Pertama, punya bashirah tentang apa yang didakwahkannya; berarti berilmu tentang hukum-hukum syar’i. Karena boleh jadi kamu berdakwah kepada sesuatu yang disangka wajib padahal yang di dalam syariat tidak. Atau bisa jadi kamu melarang seseorang dari suatu perkara, ternyata tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kedua, punya bashirah (berilmu) tentang kondisi orang yang didakwahi. Diantara yang perlu diketahui adalah tingkatan kemampuan ilmiah dan keenceran pikirannya. tak perlu istilah yang muluk-muluk apalagi asing untuk berbicara dengan mad’u sementara mad’u tak bisa membaca dan menulis, misalnya.
Ketiga, punya pengetahuan tentang cara dakwah. Allah subhanahu wa ta’ala berfiman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah* ) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl : 125)
* ) Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Ilmu merupakan syarat menuju ketakwaan. Tanpa ilmu seseorang tak akan mampu meraih ketakwaan. Di samping itu, ilmu adalah senjata orang beriman yang ditakuti oleh setan.
“Seorang Mukmin yang berilmu lebih ditakuti oleh iblis dan bala tentaranya daripada seratus ribu Mukmin ahli ibadah. Karena Allah akan menjaga orang Mukmin yang berilmu dari sesuatu yang haram.” (Ka’ab al-Ahbar bin Mati’)
“Demi Allah, matinya seorang yang berilmu lebih disukai oleh iblis dari pada matinya tujuh puluh orang yang ahli yang beribadah.” (Muhammad bin “Ali)
Kesesatan seluruh kelompok sempalan juga berpangkal dari persoalan ilmu. Bisa jadi karena miskin ilmu, atau karena kebiasaan atau keyakinan tentang bolehnya memanipulasi ilmu yang benar (mengartikan dan memahami tanpa kaidah yang benar alias seenaknya menurut hawa nafsu dan taklid buta)
Ada
sebuah pernyataan penting yang kudu diingat. “Ilmu harus dimiliki, sebelum berkata dan berbuat”
- Memulai Penerapan Ilmu Pada Diri Sendiri
Ada
sebuah ayat yang layak ditadabburi kembali oleh para aktifis dakwah. Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata); Maha Suci Allah; dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf : 108)
Yang dimaksud dengan ‘jalanku’ disini adalah tauhid. Sedangkan bashirah adalah ilmu dan keyakinan. Ayat tersebut mengajarkan bahwa langkah awal dakwah harus dimulai dari diri sendiri. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Ash Shaff : 2-3)
Di Ayat yang lain Allah mengisahkan ucapan Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian makhluk. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al An’aam :162-163)
Hal tersebut menunjukan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah yang musti dimulai dari pribadi si pengemban dakwah. Dengan begitu, orang yang berdakwah haruslah menjadi contoh hidup dari pengamalan ajaran Islam secara utuh, sebatas kemampuan yang dimilikinya.
- Bersabar Dalam Menjalankan Tugas Dakwah
Allah berfirman mengisahkan tentang pernyataan Ya’kub Alaihimus sallam, “Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya." (Yusuf : 18)
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa kesabaran memiliki beberapa bentuk berdasarkan pendapat banyak ulama: kesabaran dalam melaksanakan kewajiban, kesabaran untuk meninggalkan keharaman, kesabaran menerima takdir dan rizki dan kesabaran dalam menghadapi musibah. Semuanya diperlukan membentuk seorang muslim yang mampu menegakan kebenaran dalam setiap situasi dan kondisi.
Seorang dai harus mempunyai tekad yang dalam mengemban dakwah. Yakin akan datangnya pertolongan Allah, meski membutuhkan waktu yang panjang. Nabi Nuh Alaihimus sallam yang berdakwah selama 950 tahun, namun hanya mendapatkan segelintir pengikut. Juga kesabaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengalami gangguan dari orang-orang Qurays. Sementara malaikat gunung yang dibawa malaikat Jibril sudah siap meruntuhkan gunung untuk ditimpakan kepada orang-orang tersebut. Namun justru beliau malah bersabda, “Jangan lakukan. Tapi cobalah bersabar. Semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka generasi yang akan beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
- Doakan Si Mad’u
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir itu dipenuhi. Di sisi kepalanya ada seorang malaikat yang ditugaskan. Ketika ia berdoa kebaikan untuk saudaranya maka malaikat yang ditugaskan itu mengatakan ‘aamiin’, Dan bagimu seperti itu pula.” (Riwayat Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Mengingatkan teman memang tanggung jawabmu, namun ingat segala perubahan yang terjadi padanya adalah mutlak kehendak Allah. Dia-lah yang menguasai hati seorang hamba. Oleh karena itu, iringilah segala aktivitas baik itu dengan memohon hidayah untuknya. Semoga Allah menunjukinya utnuk mengikuti jalan kebenaran.
- Ikhlas dan Ittiba’
Keikhlasan adalah hal yang sangat penting dalam setiap amalan. Tanpanya segala amalan kebajikan tidak akan punya nilai apapun. Karena pentingnya masalah ini para rasul seringkali menyatakan,
Katakanlah: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya. (Al Furqan : 57)
Jalan yang lempang dan pasti berujung kepada surga adalah jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Maka siapapun yang hendak menempuh jalan dakwah mesti ittiba’ atau mencontoh jalan yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Segala yang kita korbankan atas nama dakwah berupa tenaga, pikiran, materi akan jadi sia-sia bila melenceng dari jalan yang lurus tadi.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) dalam urusan (agama) kami ini, maka yang tidak ada padanya (perintah kami), maka amal itu tertolak.”
Sebelum segalanya terlambat, hendaknya setiap orang mengoreksi langkahnya kembali.
Wallahu a’lam bish shawab
(Dirangkum dari berbagai sumber)